Pangan Bagi Si Miskin dan Si Kaya


Oleh Tri Hadiyanto Sasongko1

Pangan, meski bentuknya serupa, memiliki arti yang berbeda bagi si kaya dan si miskin. Makan bagi si kaya, bukan hanya urusan perut, namun juga gaya hidup2. Tidaklah heran bila kaum muda (dan kaya) di kota ada yang rela membayar Rp. 35.000 hanya untuk secangkir kopi di Starbucks atau di restoran mewah lainnya. Konon kabarnya, banyak dari mereka yang bukan (hanya) “membeli kopi”, tapi justru “membeli suasana” atau untuk meningkatkan “gengsi sosial” di antara teman-temannya. Banyak anak muda yang merasa menjadi anak gaul, keren dan gaul hanya karena mereka mampu makan dan nongkrong di restoran mahal.Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Konon kabarnya, salah satu biang keroknya adalah industri periklanan. Lihat saja, betapa menariknya bujuk rayu iklan yang saat ini muncul di televisi. Iklan dikemas dengan begitu menarik, indah dan mudah dimengerti oleh semua orang. Hal ini bisa dimengerti karena salah satu fungsi iklan adalah menanamkan citra (image) atau gambaran tentang produk yang ditawarkan pada otak konsumen. Pada industri pangan, citra yang sering ditanamkan adalah citra modern dan gaul. Ada penciptaan “norma baru” di masyarakat seolah-olah membuat orang menjadi begitu udik, kampungan dan ketinggalan zaman bila belum pernah menyantap panganan siap saji (fast food) seperti pizza, hamburger, dan produk lainnya. Pizza, hamburger, dan spaghetti dan produk instan sering dianggap pangan elite oleh sebagian besar masyarakat kita (Khudori, 2005: 85).

Kapitalisme industri makanan memang sangat lihai. Mereka tidak hanya berhasil menciptakan berbagai jenis pangan siap saji, namun juga “menciptakan kebudayaan”. Makan, bukan hanya urusan perut, melainkan juga gaya hidup. Dengan makan makanan siap saji atau produk instan konsumen bukan hanya akan terasa kenyang, namun juga akan terdongkrak kelas sosialnya (karena mampu menyantap “pangan elite”). Ada pula yang mencitrakan bahwa panganan pabrikan adalah bersih, bergizi dan aman sementara panganan tradisional adalah kotor dan tidak aman. Siapa yang diuntungkan? Jelas para konglomerat pemilik pabrik panganan pabrikan tersebut. Siapa yang dirugikan? Jelas para pengusaha panganan lokal yang bangkrut karena tidak mampu bersaing serta keluarga petani pada umumnya yang telah terjerat menjadi “konsumen setia” panganan pabrikan tersebut.

Jangankan merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli gengsi sosial dan gaya hidup, sekadar mengganjal perut pun sulit. Itulah makna pangan bagi kaum miskin. Bagi kaum miskin, pangan hanyalah sekedar urusan perut. Jangankan memikirkan gengsi sosial, keamanan dan kesehatan (gizi) pangan yang disantapnya pun sering diabaikan kaum miskin. Dalam hal ini kaum miskin selalu menjadi pihak yang sangat rentan terhadap dampak negatif kapitalisme dan komersialisasi pangan.
Kaum miskin adalah kaum yang memiliki akses dan kontrol yang sangat terbatas pada sumber daya yang penting baginya, termasuk pangan. Keterbatasan tersebut membuat pilihan mereka terhadap pangan yang memenuhi standar gizi dan keamanan yang baik juga sangat terbatas. Pangan yang relatif mampu didapatkan oleh kaum miskin adalah pangan yang murah. Pangan murah yang merupakan hasil dari pasar yang kapitalis sering tidak mengindahkan asas kesehatan dan keamanan (bahkan kemanusiaan). Dengan dalih menekan biaya produksi, agar terjangkau oleh masyarakat miskin, para kapitalis kecil menghalalkan penggunaan zat yang berbahaya bagi tubuh manusia dalam pembuatan dan pengolahan pangan.

Prasetyo (2004) memaparkan survai Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), terhadap berbagai panganan dan minuman yang dijual di ratusan SD dari Nangro Aceh Darusalam hingga Irian. Survai tersebut menunjukkan bahwa dari 550 jenis panganan dan minuman yang dijajakan, 60% tidak memenuhi standar mutu dan kemasan. Sejumlah 56% contoh jajanan tersebut dicemari bakteri beracun seperti Escheria Coli dan Salmonella sp, 50% mengandung zat pewarna Rhodamin B yang hanya diizinkan sebagai pewarna tekstil, dan 33% mengandung bahan pengawet berbahaya Boraks (Prasetyo, 2004). Dalam hal ini siapakah korbannya? Masyarakat miskin yang daya belinya rendah, yang tidak memiliki banyak pilihan, atau bahkan anak-anak kaum miskin, yang bukan hanya daya belinya rendah, namun juga awam terhadap pentingnya keamanan pangan. Lalu siapa yang diuntungkan? Para kapitalis industri pangan, baik yang berskala kecil ataupun besar, yang mendapatkan keuntungan besar dari strategi mereka menggunakan bahan-bahan berbahaya hanya demi memangkas biaya produksi dan mereguk keuntungan sebesar-besarnya.

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan. Seorang antropolog terkenal yang bernama Melville J. Herskovits menyatakan pangan adalah the primary determinants of survival bagi manusia. Karena pangan tidak boleh menjadi suatu komoditi yang diperjualbelikan untuk menumpuk keuntungan setinggi-tingginya di atas penderitaan orang lain. Pangan bukanlah komoditas ekonomi semata, melainkan juga komoditas politik. Kuat dan lemahnya suatu negara turut dipengaruhi oleh ketersediaan dan meratanya distribusi pangan tersebut ke seluruh lapisan masyarakat. Runtuhnya Orde Lama dan Orde Baru, misalnya, dipicu oleh guncangnya kondisi ekonomi bangsa Indonesia

Daftar Rujukan
KhudoriLapar : Negeri Salah Urus!, Resist Book, Yogyakarta
Prasetyo, Eko 2004 Orang Miskin Dilarang Sakit, Yogyakarta, Resist Book
Redana, Bre, Ongkos Sosial gaya Hidup Mutahir, dalam Ibrahim, Idi Subandy (editor) , Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat komoditas Indonesia, Mizan, Bandung
Ritzer, George The McDonaldization of Society: An Investigation into Changing Character of Contemporary Social Life, Pine Forge Press, California, London, New Delhi
1 Staf Peneliti Divisi Agraria di Yayasan AKATIGA
2 Lihat Redana, (1997), Ritzer (1996), Schlosser (2004), dan Khudori (2005)

Pangan Lokal, Keanekaragaman Budaya Kuliner Kita yang Semakin Terpinggirkan

Oleh : Oktani Fungsiana

Bagi kita, nama-nama umbi seperti gembili, uwi, suweg, gadung, bentoel dan lain-lain terdengar asing ditelinga. Jajanan pasar seperti gatot, cenil, klepon, gronthol pun semakin lama semakin tenggelam dengan banyaknya makanan kemasan di warung-warung sekitar. Anak-anak masih lebih mengenal Cheetos, Beng-Beng, Tanggo, dan Walls dibandingkan jajanan pasar tadi. Dalam penuturannya, mba Narsih, ibu beranak satu dengan usia anak 3 tahun, mengatakan bahwa setiap hari ia harus mengalokasikan minimal 5000 rupiah untuk jajan anaknya. Penjual es krim itu kalau tidak datang ya anaknya pergi ke warung, beli disana. Padahal harganya minimal 1500 rupiah, seringnya anak minta yang harganya 2000. itu baru untuk es krim, belum untuk jajan lainnya.


Kondisi ini berlangsung semenjak televisi masuk pedesaan. Media visual yang menarik ini kini hampir dimiliki oleh rumah tangga-rumah tangga di Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Derasnya iklan tentang makanan dalam kemasan di media massa (televisi, radio, majalah) telah membuat ibu-ibu pusing dan kebingungan. Dari total pengeluaran harian, lebih dari 25 % dibelanjakan untuk jajan anak, untuk membeli panganan kemasan tersebut.


Sebenarnya, dalam budaya masyarakat Banyumas, dikenal berbagai jajanan pasar yang lezat rasanya. Makanan seperti cenil, gronthol, klepon, lupis, gatot, dll merupakan sedikit dari jenis-jenis makanan tersebut. Ada juga kudapan keluarga yang sering dijumpai dari olahan bahan-bahan umbi-umbian. Talas, singkong, dan suweg adalah beberapa bahan baku kudapan yang mudah diperoleh.


Tanaman-tanaman tersebut masih banyak dijumpai karena memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tinggi. Berbagai jenis umbi-umbian tersebut telah lama tumbuh dan berkembang di lingkungan Banyumas, sehingga dapat berkembangbiak dengan baik. Ketika musim kemarau datang, umbi-umbian tersebut menjadi dorman dan masih dapat bertahan selama musim kering itu untuk kemudian tumbuh ketika musim penghujan datang, demikian kata Pak Narsudi, petani dari dusun Depok, Kelurahan Teluk. Dengan usianya yang hampir 70 tahun, beliau mengatakan bahwa sudah dari dulu tanaman-tanaman tersebut ada dan dikenal masyarakat di desanya. Bahkan jauh sebelum beliau lahir, hingga ke nenek buyutnya.


Berdasarkan penelitian, umbi-umbian tersebut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Suweg memiliki kandungan kalsium yang baik bagi pertumbuhan anak, dapat menguatkan tulang dan gigi baik bagi anak maupun orang dewasa. Begitu juga dengan kimpul, selain mengandung kalsium, juga mengandung kalori yang digunakan oleh tubuh untuk beraktifitas. Sedangkan uwi memiliki fosfor dengan kandungan tinggi yang digunakan oleh tubuh untuk proses metabolisme. Tidak ketinggalan dengan gadung, umbi ini ternyata mengandung vitamin C cukup tinggi, bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta menghindari serangan flu di musim yang mudah berubah seperti sekarang.

Berikut adalah jenis umbian-umbian yang masih dijumpai di desa-desa di Kabupaten Banyumas

Nama umbi-umbian

Varietas

Singkong

Mentega

Ubi jalar

India, Pangkur, Palembang

Talas

Pari, Bogor, Jahe

Suweg

-

Gembili

-

Uwi

-

Kimpul

-



Selain umbi-umbian, ada juga jagung yang dapat diolah menjadi berbagai panganan yang menyehatkan. Gronthol dan marning adalah beberapa bentuk olahan jagung. Di beberapa tempat didataran tinggi, daerah pegunungan, jagung ini menjadi makanan pokok. Jagung yang telah kering ditumbuk kemudian ditanak menjadi nasi jagung yang I lezat apabila dikonsumsi dalam keadaan masih hangat.

Masyarakat di banyumas, mengolah umbi-umbian dengan berbagai cara, misalnya dengan merebusnya, menggoreng, mengukus, membakarnya, serta menggilingnya. Singkong misalnya, mulai dari digoreng, dibakar, di kukus, dikukus kemudian dicampur dengan gula (dibuat gethuk), digiling dibuat klanthing dan diiris-iris tipis menjadi sriping semuanya dapat dilakukan dengan citarasa yang berbeda-beda namun tetap enak.

Kemana Pangan Lokal Kita?


Pak Narsudi bertutur bahwa dulu ketika jaman jepang, masyarakat di daerah teluk mengkonsumsi nasi jagung sebagai manakan pokok. Kemudian ketika jaman tahun 1965 mereka susah mendapatkan jagung untuk dimakan, sehingga oyek pun menggantikannya. Singkong yang pada saat itu mudah diperoleh, di olah dengan dikeringkan untuk kemudian direbus. Setelah orde baru mencanangkan gerakan revolusi hijau, maka jagung pun diganti dengan beras. Keberhasilan produktivitas lahan basah, membuat beras mudah diperoleh dengan harga murah. Beras inilah yang disebut sebagai simbol kemakmuran masyarakat, sehingga mengkonsumsi beras sama dengan menunjukkan tingkat kemakmuran.


Jenis dan variasi pangan lokal yang ada semakin lama semakin menurun popularitasnya. Di Dusun Angkruk, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, anak-anak begitu menggemari es krim sehingga mereka akan dengan sukacita menyambut kedatangan penjual es krim sembari berlari-larian dibandingkan dengan kedatangan balok singkong buatan ibu. Publikasi yang intensif di media massa baik televisi, radio, majalah, serta mudahnya makanan pabrikan dijumpai, semakin meminggirkan makanan lokal. Anak-anak akan dengan mudah menyebutkan jenis makanan kemasan pabrik bila dibandingkan dengan jajanan pasar seperti gronthol, cenil, klepon, gatot, dan tiwul. Pencitraan makanan kemasan yang demikian di media massa membuat anak-anak kemudian memiliki perspektif bahwa makanan lokal itu kuno sedangkan makanan kemasan itu modern. Oleh karenanya anak-anak pun berpikir, ketinggalan jaman apabila mengkonsumsi makanan lokal.


Di Pasar Kober, pedagang penjual makanan lokal adalah mbah-mbah yang usianya sudah tua, beliau menjual lupis dan bunthil. Di dusun Depok, yang pandai membuat kerupuk gadung diantaranya adalah Bu Marto dan Bu Muraji. Beliau menjelaskan bahwa untuk dapat menghasilkan kerupuk gadung yang enak dan bebas racun memerlukan tahapan yang panjang, mulai dari perendaman selama 2 hari 2 malam dan penjemuran selama 3 kali di bawah sinar matahari. Oleh karenanya tidak banyak ibu muda yang telaten untuk membuatnya. Mereka merasa lebih senang membeli makanan jadi ataupun makanan instan yang cara memasaknya mudah serta cepat.


Tingginya tuntutan ekonomi keluarga sekarang ini membuat pasangan suami dan istri harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut mengurangi waktu yang tersedia bagi orang tua untuk menyediakan jajanan yang di olah sendiri dari bahan-bahan lokal. Kebutuhan anak akan makanan pun di penuhi dari warung yang ada dengan makanan pabrikan sebagai menu utama. Pengawasan orang tua terhadap makanan-makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak pun semakin berkurang. p>

Makanan Lokal Bagi Kita


Makanan lokal sesungguhnya merupakan bentuk kekayaan budaya kuliner kita. Keanekaragamannya yang terbentuk atas dasar ketersediaan bahan baku dan kebutuhan lokal, menjadikannya memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kebutuhan masyarakat akan energi bagi tubuhnya. Nasi jagung yang menjadi makanan pokok daerah pegunungan memiliki kandungan kalori 129 kal, 108 mg fossor, dan 117 SI vitamin A. menurut Pusat Pengembangan Konsumsi Pangan, kandungan gizi jagung adalah dua kali kandungan gizi beras, sehingga tidak heran apabila masyarakat yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok memiliki daya tahan tubuh yang lebih tinggi daripada masyarakat konsumen beras.


Konsumsi makanan yang bervariasi baik bagi kesehatan. Dengan asupan makanan yang beragam, maka kebutuhan tubuh akan mineral dan vitamin pun dapat terpenuhi dari makanan yang berbeda-beda. Pepatah cina tentang kesehatan mengatakan, bahwa salah satu sumber penyakit adalah makanan, namun makanan juga dapat menjadi sumber obat. Sehingga bagaimana memilih makanan yang baik bagi kesehatan akan sangat membantu menjaga kesehatan kita.

Makanan kemasan yang mengandung pengawet, pemanis buatan, penyedap dan pewarna buatan dapat mengganggu kesehatan. Berbagai penyakit seperti kanker, autisme, flek paru-paru, batuk, dan gigi berlubang merupakan sedikit dari akibat konsumsi makanan kemasan. Oleh karenanya biasanya penyakit-penyakit degeneratif tersebut banyak di derita oleh orang-orang yang tinggal di perkotaan.


Dampak yang paling besar dengan peminggiran makanan lokal adalah semakin tingginya ketergantungan masyarakat akan terigu dan beras. Tingginya harga beras saat ini salah satunya adalah karena rendahnya ketersediaan beras akibat kemunduran musim tanam dan bencana alam, sementara kebutuhan masyarakat akan beras semakin tinggi karena meningkatnya jumlah penduduk. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakseimbangan persediaan dengan permintaan sehingga menaikkan harga beras. Dengan demikian, biaya pengeluaran konsumsi untuk keluarga pun menjadi tinggi.

Selain baik bagi kesehatan, keanekaragaman konsumsi pangan dengan memanfaatkan berbagai pangan lokal, juga baik bagi stabilitas pangan suatu daerah. Jenisnya yang banyak memungkinkan masyarakat untuk memiliki alternatif pangan lain selain beras, akibatnya adanya kenaikan harga beras tidak akan terasa begitu memberatkan masyarakat. Masih ada jagung dan singkong serta umbi-umbian lain yang juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan kalori. Hal ini tentu bagus bagi kondisi keuangan negara. Impor beras pun menjadi tidak begitu penting dilakukan sehingga devisa negara dapat lebih dihemat.


Cara yang dapat dilakukan untuk membangkitkan kembali eksistensi pangan lokal kita adalah dengan : 1) meneruskan pemahaman mengenai gizi kepada masyarakat, bahwa makan tidak hanya yang penting kenyang dan harus beras, tapi juga perlu variasi dengan aneka jenis makanan lainnya. Mengkonsumsi singkong ataupun jagung untuk selingan juga dapat dijadikan sebagai selingan menu keluarga sehingga kemampuan untuk menikmati berbagai jenis makanan yang berbeda menjadi tinggi. 2) meningkatkan citra makanan tersebut dengan meningkatkan variasi pengolahan seperti yang dilakukan oleh pengusaha gethuk goreng yang membuat Sokaraja terkenal serta Bu Tuti yang mempopulerkan ikan lembutan Sungai Serayu sehingga banyak diburu oleh orang-orang perantauan 3) perlunya dukungan dari pemerintah agar simbol-simbol kemakmuran tidak hanya ada pada beras, namun juga pada jenis-jenis makanan lokal lainnya, dan tentu saja 4) perlu dukungan dari kita semua untuk tetap melestarikan kebudayaan kuliner kita yang selain baik bagi kesehatan juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga. Jadi pilih murah dan sehat atau mahal dan mengundang penyakit?

Pertanian Berkelanjutan dan Kedaulatan Pangan; Bukan Sekedar Swasemba Pangan

Oleh Widya Kridaningsih

Banyumas, pertengahan 2006. Waktu itu harga beras melambung tinggi, mencapai Rp. 5000 per kilo bahkan lebih. Ramai sekali media massa memberitakan dan mengulas harga kebutuhan pokok yang meroket itu. Tua muda, laki-laki perempuan berdesakan dan membentuk berderet panjang untuk ngantri beras operasi pasar. Panas, peluh dan desakan kanan kiri tidak mereka hiraukan untuk mendapatkan 2 kilogram beras dengan harga lebih murah.

Begitu kira-kira gambaran ketika masyarakat kita berhadapan dengan krisis pangan. Secara umum pangan diartikan sebagai segala sesuatu yang dihasilkan baik secara alami dari makhluk hidup maupun melalui rekayasa teknologi yang dikonsumsi oleh manusia guna menghasilkan energi sumber kehidupannya. Pangan menempati posisi penting dalam kehidupan makhluk di muka bumi ini, apalagi bagi manusia. Pangan menjadi salah satu kebutuhan mendasar yang harus dicukupi, setelah air dan udara. Bahkan pemerintah akan menanggung dosa besar jika tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan penduduknya.


Masalah pangan memang tidak pernah terselesaikan di negeri ini. Sejak lebih dari 20 tahun silam, sejak pangan pokok untuk seluruh penduduk di negeri ini diseragamkan menjadi beras. Tak bisa dipungkiri, ideologisasi beras justru merupakan pemicu malapetaka berbagai persoalan pangan nasional. Beras yang semula hanya berstatus sebagai satu jenis makanan etnis wilayah dan musim tertentu naik kelas menjadi makanan pokok dengan status lebih tinggi dan bergengsi dibanding makanan pokok lain. Konsumsi beras selalu meningkat setiap tahunnya, bahkan Husodo (2003) menyebutkan bahwa angka rata-rata konsumsi beras per kapita per tahun mencapai 133 kg, tertinggi di dunia. Akibatnya setiap tahun, Indonesia harus merelakan cadangan devisanya untuk mendatangkan sedikitnya 2 juta ton beras dari negara lain.

Persoalan pangan yang kita hadapi ternyata sangat kompleks. Persoalannya bukanlah sekedar bagaimana mewujudkan ketahanan pangan (food security) melalui swasembada pangan (self suficiency) apalagi hanya swasembada beras, akan tetapi bagaimana mewujudkan kedaulatan atas pangannya (food reliance).


Komitmen Internasional

FAO organisasi pangan dan pertanian dunia dalam Pertemuan Puncak Pangan Dunia (World Food Summit) tanggal 13-17 November 1996 di Roma mengeluarkan deklarasi Deklarasi Roma tentang Ketahanan Pangan Dunia (Rome Declaration on Word Food Security). Deklarasi ini memuat, kesepakatan negara-negara di dunia untuk menjamin akses dan pemenuhan masyarakat atas jumlah, komposisi gizi dan aman dari cemaran biotik maupun abiotik yang berdampak negatif bagi kesehatan. Deklarasi ini juga mensyaratkan kesesuaian jenis pangan yang diproduksi dengan pola konsumsi masyarakat.

Deklarasi tersebut ditindaklanjuti oleh Pemerintah dengan mengeluarkan UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan, lalu dioperasionalkan melalui PP 68 tahun 2002 yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan ketersediaan pangan; cadangan pangan nasional; penganekaragaman pangan; pencegahan dan penanggulangan masalah pangan, dan pengendalian harga; peran pemerintah dan masyarakat serta pengembangan SDM dan kerjasama internasional.

Persoalan sesungguhnya ternyata bukan hanya sekedar penyediaan pangan, yang lebih penting adalah bagaimana cara negara mencukupi kebutuhan pangan tersebut? Karena, ketergantungan pangan suatu negara terhadap negara lain, merupakan ancaman besar bagi kedaulatan suatu bangsa baik secara politik, ekonomi, sosial-budaya dan Hankam. Sebuah negara yang sudah tidak memiliki kedaulatan pangan tinggal menunggu keruntuhannya saja karena telah kehilangan kemerdekaan untuk mengurus dirinya sendiri.


Kontribusi PB terhadap proses pembangunan kedaulatan pangan

Menurut Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) (2005), Kedaulatan Pangan merupakan hak setiap orang, kelompok masyarakat dan negara untuk mengakses dan mengontrol berbagai sumber daya produktif serta dalam menentukan kebijakan produksi, distribusi, dan konsumsi pangannya sesuai dengan kondisi ekologi, sosial, ekonomi dan budaya khas masing-masing. Adapun 4 (empat) pilar yang menyangganya yaitu 1) Penataan ulang sumber-sumber produksi pangan; 2) Pengembangan pertanian berkelanjutan 3) Pengembangan perdagangan yang adil; dan 4) Penguatan pola konsumsi aneka pangan lokal.

Pertanian Berkelanjutan (PB) merupakan pengelolaan sumber daya pertanian untuk memenuhi perubahan kebutuhan manusia sembari merawat dan meningkatkan kualitas lingkungan dan pelestarian Sumber Daya Alam (SDA). Ada 3 (tiga) capaian yang diinginkan dalam pengembangan PB yaitu adanya peningkatan produktivitas dan pendapatan komunitas manusia; peningkatan keseimbangan dan peningkatan stabilitas dan berkelanjutan dari sistem melalui konservasi air, tanah dan unsur hara. Jadi terdapat dua dimensi dalam PB yaitu dimensi biofisika dan dimensi sosial.


Dalam konsep PB upaya penyediaan pangan dapat dilakukan secara mandiri oleh petani, sebagai produsen sekaligus konsumen pangan. Pangan diproduksi melalui penggunaan berbagai benih tanaman pangan lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi wilayah dan iklim setempat. Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan pemanfaatan kotoran ternak (padat atau cair), pupuk hijau dan limbah atau sisa tanaman atau sampah dapur, sedangkan pengendalian OPT (organisme penganggu tanaman) dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang diramu berdasar pengetahuan dari petani-petani pendahulu.

Begitu pun input air, misalnya irigasi dapat dihemat melalui penerapan konservasi tanah dan air. Selain itu, pemanfaatan keanekaragaman hayati baik tanaman maupun ternak dapat mencukupi kebutuhan manusia lainnya seperti bahan obat, protein yang bersumber dari aneka macam ternak, kayu bakar, dsb. Semua itu akan memberikan jaminan ketersediaan bahan pangan sepanjang waktu, karena lingkungan pertanian tetap terjaga keseimbangannya dan kualitasnya sehingga bisa menghasilkan produk secara berkelanjutan.


Banyumas dan Kedaulatan Pangan

Banyumas terkenal sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Tengah. Lahan sawah seluas 32.770 ha menghasilkan gabah sebanyak 325.121 ton atau setara 195.072 ton beras bagi 1.538.285 jiwa. Jadi, setiap jiwa memperoleh jatah 126 kg per tahun. Angka tersebut sudah memenuhi nilai rata-rata konsumsi beras di Indonesia. Namun, ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan bahan pangan saja, tetapi bagaimana aksesibilitas masyarakat terhadap bahan pangan tersebut. Sebagaimana di propinsi lain di Indonesia, petani dan buruh tani merupakan komposisi penduduk terbesar di Kabupaten Banyumas yaitu 25,14% dan 23,08 %, jika digabungkan sekitar 727.817 orang.

Rata-rata kepemilikan lahan pertanian oleh petani hanya sekitar 0,2 ha sehingga hasilnya pun dapat diperkirakan hanya dapat mencukupi kebutuhan keluarga petani. Belum lagi kasus-kasus kegagalan panen yang disebabkan faktor iklim seperti banjir, angin kencang dan kekeringan memperburuk situasi perekonomian petani. Kondisi agro ekosistem yang buruk dan ketergantungan petani terhadap asupan luar (benih, pupuk dan pestisida kimia) juga menyebabkan margin keuntungan yang diperoleh petani sangat kecil.


Untuk mewujudkan kedaulatan pangan memang tidaklah semudah membalik tangan. Banyak prasyarat yang harus dipenuhi untuk mencapainya. Prasyarat-prasyarat tersebut di antaranya perlu dilakukanya Reforma Agraria untuk melakukan penataan ulang atas struktur kepemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah sehingga petani memiliki dan berkuasa atas sumber agraria (tanah, air, sumber daya alam) sebagai faktor produksi utama. Pembangunan infrastruktur pendukung pertanian, seperti irigasi, pabrik alat-alat dan mesin pertanian made in Indonesia, sarana trasportasi, meningkatkan akses dan informasi tentang sektor pertanian, dsb.; Peningkatan Kapasitas SDM pertanian; dan Membuat kebijakan yang berpihak pada pertanian, misal membangun struktur perdagangan produk pertanian yang adil, memperbesar anggaran sektor pertanian, mendorong perubahan pola konsumsi, dll.

Menurut data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas, mulai terjadi penurunan produksi pada tahun 2005, dari 358.073 ton menjadi 329.084 ton. penyebab utama penurunan produksi adalah a) permasalahan faktor produksi yaitu adanya ketimpangan kepemilikan lahan dan penguasaan struktur agraria di Kabupaten Banyumas, perubahan kondisi agroekosistem, rendahnya akses iptek dan anggaran pertanian, dan ketersediaan sarana produksi (pupuk); b) permasalahan pada proses produksi yaitu tingginya tingkat ketergantungan petani terhadap asupan luar, dan rendahnya penguasaan teknologi budidaya.

Permasalahan pertanian di Kab. Banyumas
  • bencana angin, banjir dan kekeringan

  • kerusakan infrastruktur (irigasi)

  • perubahan iklim global

  • privatisasi air

  • tingginya serangan hama dan penyakit

  • kurang PPL

  • mekanisme tataniaga

  • harga produk rendah

  • mekanisme penyediaan saprodi belum tepat sasaran

  • rendahnya respon terhadap perubahan iklim global

  • tingginya ketergantungan masyarakat terhadap beras

  • pertumbuhan penduduk tinggi

  • alih fungsi lahan pertanian di kabupaten banyumas.

Perut Kita Juga Dijajah !

Oleh M.N. Latief


Jika anda membayangkan tentang desa, jangan buru-buru beranggapan bahwa desa adalah daerah yang terpencil, listrik tidak ada, makanannya khas atau hal-hal lain yang masih sangat katro, meminjam istilah presenter kondang Thukul. Desa sekarang tidak lebih merupakan replika kota. Perbedannya mungkin hanya di desa tidak ada gedung yang menjulang mencakar langit, serta jalan-jalannya yang tidak begitu lebar. Lainnya, sama.

Ada hubungan timbal balik kota dan desa. Kota mempengaruhi desa dan sebaliknya. Fenomena ini sudah terjadi pada jaman revolusi industri Inggris dulu. Waktu itu pemerintah kerajaan Inggris mengeluarkan suatu paket Undang-undang yang terkenal dengan UU Domba, pemerintah Inggis memerintahkan kepada rakyat di daerah pedesaan untuk mengganti lahan pertaniannya menjadi ladang penggembalaan domba, kebutuhan kota akan wol sedang tinggi, maka desa harus mensuplyai kebutuhan tersebut, demi memajukan industri nasional.

Desa dan kota sama-sama berproduksi, dalam skala yang berbeda tentunya. Mereka menghasilkan barang yang dikonsumsi masyarakat, aktifitasnya meningkatkan taraf hidup masyarakat, mempekerjakan tenaga kerja, akhirnya, desa dan kota sama-sama menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional.


Persamaan desa dan kota berkembang bukan hanya hal yang diungkapkan diatas, dalam bidang budaya misalnya, desa berubaha menjadi semakin kota. Tengok gaya anak mudanya, tidak ada bedanya, perempuan muda di desa juga semakin tampil menarik dengan fashion dan model rambut terbaru yang mereka impor dari kota. Baju ketat, pusar sedikit terbuka, rambut panjang lurus dan tentu saja, wangi.

Intervensi kota pada bukan hanya itu saja, bisakah anda membayangkan di kaki gunung, ada penjual fried chicken, bahkan ayam goreng ala Kentuky ini menjadi kegemaran sebagian penduduk. Dari salah satu negara bagian di Amerika, makanan berubah menjadi kegemaran manusia dunia, termasuk Kemawi.

Dani (8 th), misalnya, murid kelas 2 salah satu SD di Kemawi ini sering merengek meminta ibunya untuk membelikan friedchiken di ujung desa sebagai lauk makan siang sepulang sekolah. “Mbuh enake neng endi” ujar Paryati, ibunya. Dia heran mengapa anaknya begitu suka daging ayam yang dibungkus tepung dengan bumbu. Padahal menurutnya, makanan itu tidak istimewa. “ Makanannya sederhana, bahkan saya bisa memasak lebih enak” ujarnya.


Penetrasi Budaya dan Ekspansi Modal

Arizal mutakhir, seorang sosiolog dari FISIP Unsoed menjelaskan fenomena ini sebagai akibat dari globalisasi. Menipisnya jarak dan batas antar negara, wilayah, bahkan budaya masyarakat dunia. Teknologi komunikasi dan kemajuan tekhnologi lain membuat hilangnya batas ruang dan waktu.

Kita sudah masuk pada jaman globalisasi, hampir tidak ada batas antar negara, budaya, bahkan ekonomi. Jika tidak hati-hati, kita akan mengalami banyak benturan peradaban yang membuat manusia gegar budaya” ujarnya.


Menurut Hariyadi MA, rekan satu kantor Arizal penyebabnya adalah media. Media membuat semuanya menjadi mungkin, orang mudah menemukan referensi gaya hidup yang cepat direplikasi. Media juga mencitrakan gaya hidup tertentu lebih lebih baik dari gaya hidupnya sekarang.

“Jangankan di Kemawi, di Papua orang menggunakan masih koteka tapi tentang-tenteng HP” ujarnya.

Senada dengan koleganya, Haryadi juga memperingatkan akan adanya benturan peradaban. Hal ini terjadi ketika dengan gaya hidup barunya, orang menemukan kesulitan. Misal, karena tidak terbiasa memakan humberger, orang kadang merasa perutnya tidak enak, lidahnya juga belum terbiasa, bahkan tidak tahu cara memakannya.

”Selain itu juga identitas lama juga tetap menuntut eksistensinya” ujarnya menambahkan.


Selain budaya, ada juga globalisasi ekonomi. Proses ini ditandai dengan meleburnya batas-batas negara dalam perdagangan. Tak terkecuali Indonesia. Mulai tahun 1995 Indonesia masuk pada perjanjian pertanian yang disebut sebagai Agreement on Agriculture, perjanjian ini dimotori oleh WTO suatu badan dunia yang mengurusi perdagangan antar negara. Dengan mengikutinya perjanjian ini, Indonesia berkewajiban untuk pertama, mengurangi dukungan domestic kepada petani dalam bentuk kredit lunak dan subsidi input bahan-bahan pertanian. Dukungan ini domestik akan terus berkurang sampai akhirnya dihapus sama sekali.

Pasal berikutnya adalah pengurangan subsidi ekspor. Dengan pengurangan ini, petani kita dibiarkan pemerintah untuk menghadapi pemain-pemain besar pemasar produk pertanian. Persoalan ketiga yang diatur dalam perjanjian tersebut adalah perluasan akses pasar, artinya penghapusan seluruh bentuk hambatan impor produk pertanian dan mengkonversinya dalam bentuk tarif. Persoalannya adalah setiap tahun tarif akan turun dengan perhitungan tertentu, maka seluruh produk pertanian dari negara-negara maju bisa masuk ke Indonesia secara bebas. Persoalan tarif bukan persoalan yang sulit untuk diatasi bagi negara-negara maju.

Perjanjian ini membuat produk pangan luar negeri membanjiri pasar domestik. Tak terhitung banyaknya frenchise makanan siap saji yang menjamur di kota-kota besar. Mereka tampil lengkap dengan identitas baratnya, Mc Donald, Kentucy Fried Chiken, Paparon Pizza, Spaghetti. Jika orang Indonesia mengkonsumsi salah satu produknya, maka lengkap sudah identitas mereka sebagai penduduk dunia.


Penjajahan Pangan

Sadar atau tidak sadari kita sedang mengalami penjajahan bentuk baru, yaitu panjajahan pangan. Bentuk penjajahan ini tentu berbeda dengan kolonialisme purba, namun dampaknya adalah kemunduran ekonomi dan budaya bangsa.

Arief Wahidin, seorang aktifis gerakan sosial menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah kita semakin menjauhkan rakyat dari pangannya. Menurutnya ini awal dari penjajahan pangan yang dilakukan oleh negara-negara maju. Bentuknya bukan hanya kelaparan, tapi juga kedaulatan masyarakat atas pengetahuan yang telah dimilikinya sejak lama. ” Penjajahan pangan menghilangkan kedaulatan orang atau komunitas untuk memenuhi pangan mereka” ujarnya.

Bentuk penjajahan tidak melulu impor besar-besaran produk pertanian asing, tapi juga dalam bentuk kapitalisasi benih, saprodi, dan lain-lain yang memarginalkan orang atau komunitas dari sumber pangannya, bahkan kerusakan lahan pertanian, penyerobotan juga memutus petani dari sumber panganya.

Rijal bahkan lebih tegas lagi memandang persoalan ini. ”Apapun isi perjanjian internasional tentang pangan, tapi kita jelas sudah melihat kegagalan negara dalam menyediakan pangan nasional. Artinya pemerintah sudah tidak mampu menyelenggarakan perlindungan, pangan sudah diserahkan pada pasar yang akan membawa kesengsaraan bagi petani” ujar akademisi muda ini.


Sementara, Shanti Kusumayanti, seorang pegiat kuliner mengungkapkan bahwa investasi modal asing dalam bentuk frenchise pangan adalah bentuk nyata penjajahan pangan. ” Rempah lokal yang sudah menjadi tradisi bumbu masak kita dihapuskan, sebagian diklaim oleh para pemodal” ujarnya. Selain itu, terjadi pergeseran bahan baku alami ke bahan sintetis untuk memajukan industri high demand. Menurut para pemodal ini, makanan lokal Indonesia harus digeser karena inventory cost-nya terlalu tinggi. ”Maka perut konsumen didikte untuk bisa menerima makanan yang fast and furious food” tambahnya.

KARYA WISATA KOMPOS RUMAH TANGGA

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 17 November 2007
Foto: Sobirin, 2007, Pemkot Bandung Meninjau Komposter Saya

Oleh: SOBIRIN
Semenjak rumah saya dikenal “zero waste”, sampah rumah tidak dibuang keluar rumah, tetapi diproses menjadi kompos dan lain-lain, maka telah banyak warga yang datang ingin melihat dari dekat bagaimana cara-cara membuat MOL, membuat kompos, dan hal-hal yang terkait.


S
udah lebih dari 200-an warga yang telah datang berkunjung ke rumah saya di Jalan Alfa No. 92 Cigadung, Komplek UNPAD II, Bandung 40191. Kadang warga datang berombongan, kadang hanya sendiri atau berdua atau bertiga. Semua ingin melihat bagaimana cara membuat MOL, cara membuat kompos, kertas daur ulang dan lain-lainnya. Potret sana, jepret sini.

Macam-macam kelompok warga yang datang, ada yang dari ibu-ibu PKK, ada guru, ada dari keluarga masjid, ada dari Rotary Club, ada dari hotel, ada dari pematung terkenal pak Soenaryo, dan masih banyak lagi.


Malah dari Rotary Club Bandung (Rotary Bandung yang mana saya tidak hafal) termasuk Bapak Sudjatmiko selaku Gubernur Rotary juga datang melihat komposter di rumah saya. Karena model komposternya sangat sederhana, mudah dibuat, mudah dipanen, serta tidak mahal dalam konstruksinya, maka Rotary mengadopsinya untuk disebar-luaskan di tempat-tempat lain.


Ketika semakin banyak yang berminat, maka saya mengatur waktu kunjungan semacam karya wisata ini. Jadwal saya atur dari Senin hingga Jumat, dari pukul 07.00 hingga 09.00 pagi. Saya mengatakan bahwa setelah jam 09.00 saya pergi keluar rumah untuk urusan sosial yang lain.


Tanggal 8 November 2007 yang lalu, pak Dadang dan pak Djeni staf dari Dinas Pertamanan dan Permakaman Pemerintah Kota Bandung juga datang ingin mengadopsi model komposter yang ada di rumah saya untuk di pasang di Pendopo Walikota Bandung.

Setelah meninjau komposter saya, moga-moga saja mereka membuatnya di rumah masing-masing. Moga-moga warga kota menjadi peduli dengan sampahnya. Sampah diolah menjadi berkah.

Mini Bazar ke II

Kesuksesan penyelenggaraan dan kesan puas serta aura positif dari para anggota ADEA (perkumpulan isteri dan suami dari para duta besar yang berada di argentina) saat mengikuti pertandingan olah raga “Bridge” dan “Mini Bazar” yang pernah diselenggarakan di Wisma Duta pada tanggal 11 oktober 2007 yang lalu terasa terus menggema, baca laporannya di : http://informasi-budidaya.blogspot.com/2007/10/bridge-dan-mini-bazar.html

Baru sebulan berlangsung, sudah banyak anggota ADEA yang meminta kepada Ibu Herawaty S. Manurung untuk segera menyelenggarakan kembali acara tersebut, khususnya “Mini Bazar”. Momentum yang bagus ini tidak disia-siakan dan menjadi motivasi tersendiri. Walau kesibukan sedang melanda ibu-ibu, namun demi promosi negara, apapun bisa diatur secara bijak. Dalam rangka mengisi kegiatan HUT DWP ke-8 tanggal 7 Desember 2007, DWP KBRI Buenos Aires selaku mitra kerja KBRI tanpa birokrasi kepanitiaan yang berbelit-belit langsung bekerjasama dengan fungsi ekonomi kbri dalam pengumpulan dan pemilihan barang-barang bazar dan dengan fungsi penerangan kbri dalam hal membantu promosi dan penyebar luasan informasi penyelenggaraan bazar.

Persiapan yang hanya seminggu, di mulai dari pemilihan barang-barang, membuat undangan, menentukan dan menempelkan harga-harga sampai mendekorasi tempat display yang pada akhirnya dapat dikerjakan bersama-sama oleh pengurus dan anggota Dharma Wanita yang hanya terdiri dari bebarapa orang saja.

Berkat keuletan, kesabaran, perhitungan dan pengalaman, ternyata stand mini bazar tersebut akhirnya dapat berdiri dengan sederhana, namun terlihat lebih cantik , apik, dan meriah. Stand-nya pun terlihat lebih lebar, lebih lengkap dan lebih bervariasi, karena selain diisi oleh handy craft, juga dilengkapi dengan baju-baju batik, tas rotan, dll.

Pada hari yang telah di tentukan yaitu pada tgl 16 nopember 2007 jam 13.00, tepatnya di kediaman Wisma Duta, acara mini bazar tersebut dibuka untuk umum, panitia kecil yang terdiri dari ibu-ibu DWP dengan senyum yang ramah menyambut kedatangan para pengunjung yang mulai berdatangan sambil sekali-kali memberikan informasi dan promosi tambahan tentang jenis-jenis dan asal muasal barang tersebut.

Acara ini rasanya dinilai sungguh tepat sekali penyelenggaraannya, sebelum acara kenaikan kelas , Natal dan Tahun Baru, karena terlihat ibu-ibu yang datang sangat antusias sekali untuk memilih barang2 yang di butuhkan, dan nampaknya mereka membeli tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi dicari dan dipilih juga untuk hadiah seseorang atau kerabatnya, atau mungkin untuk guru anaknya. Mereka terkesan bahagia dan puas.

Jam 17.00 acara mini bazar selesai. Misi DWP KBRI Buenos Aires dalam membantu dan ikut andil dalam mempromosikan Indonesia di luar negeri telah direalisasikan. Rasa puas dan bangga dalam kesuksesan penyelenggaraan mini bazar tersebut terbesit di raut wajah ibu-ibu DWP. Walau kegiatan tersebut berskala mini dan kecil, namun hasil yang didapat berbuah besar dan panjang serta berkelanjutan. Salut dan aplus buat DWP KBRI Buenos Aires.-




KRIYA PLASTIK BEKAS DAN EKONOMI KREATIF

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 15 November 2007
Foto: Rokhani, 2005, Kerajinan Kantong Plastik Bekas


Oleh: SOBIRIN

Ketika lapangan pekerjaan sulit dicari, ketika hidup ini menganggur, perlu upaya memutar otak agar dapur terus mengebul. Konsep “ekonomi kreatif” dengan menciptakan barang bekas menjadi barang berguna dan laku dijual, merupakan trend bisnis baru yang sangat menjanjikan.



Ekonomi kreatif” yang menggabungkan antara seni, budaya, ketram
pilan, barang bekas, bisnis, lingkungan, dan kewirausahaan saat ini merupakan trend baru yang mulai menggeliat. Awalnya saya diberitahu tentang "ekonomi kreatif" ini oleh pak Sajiboen, yang juga seorang wirausahawan. Bahkan secara ilmiah telah diwacanakan di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung oleh Togar M. Simatupang.

Hal ini bisa juga langsung dipraktekkan oleh awam dan masyarakat biasa, dengan syarat berniat, tekun dan terus berintervensi ke pasar dengan semangat wirausaha yang tangguh.
Sebagai contoh, plastik bekas bungkus deterjen atau sejenisnya yang berukuran sedikit lebar, telah dimanfaatkan untuk kerajinan tangan, kriya, handicraft berupa tas kantong belanja, sandal rumah, payung, dompet dan sejenisnya yang laku dijual (lihat foto).

Bahan plastik kantong bekas deterjen tersebut tentunya dipilah-pilah sesuai warna-warna yang dominan, kemudian dipola, dijahit. Dibagian luarnya dilapis plastik bening dan diberi pinggiran kain dengan warna yang sesuai. Jadilah sesuatu barang yang berguna dari barang yang tadinya dianggap sampah.


Beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung ke React Center, Villa Delima, yang beralamat di Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan 12440, Telpon 021-766841. Tempat ini dipakai untuk show-room barang-barang yang dibuat dari barang-barang bekas, antara lain plastik bekas, kertas bekas, dan lain-lain. Barang-barang yang dipamerkan cukup menarik, ada tas belanja, tempat sampah, dompet, tempat pinsil. Semuanya dari kantong plastik bekas yang telah disulap menjadi barang-barang yang fungsional.

Pelaku pembuat barang-barang ini adalah warga sekitar, jadi boleh dikatakan kegiatan ini berbasis warga. Pengelolanya adalah ibu Karen Isdaryono, Telpon 021-92752566 (Moga-moga alamat dan telpon belum berubah).


Lain lagi yang dirintis oleh seorang wirausahawan muda dari Ciledug, Tangerang. Namanya Aswin Aditya, alamatnya di Plastic Works, Perumahan Pondok Surya Blok S/13, Karang Tengah, Cileduk. Dari barang-barang bekas kantong plastik ini, berkat kegigihannya, telah mampu membuat kriya, cinderamata, handicraft yang pasarnya telah menembus luar negeri, dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan, dan menyerap tenaga kerja. Bila ingin tahu lebih lanjut bisa dibaca di internet Unilever Peduli tentang Aswin Aditya.


Mari kita menggali dan mengimplementasikan konsep “ekonomi kreatif” ini. Bahan baku banyak di sekitar kita. Sambil kita ikut melaksanakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Sampah rumah jangan dibuang, tetapi diproses menjadi barang berguna.

MELELEHKAN PLASTIK MODEL PABRIK

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 14 November 2007
Foto: Sobirin 2005, Pabrik Pelet Plastik Daur Ulang Padalarang

Oleh: SOBIRIN
Kalau punya uang berlebih, dan bermaksud menginvestasikannya di dunia plastik daur ulang, sepertinya mudah menangguk keuntungan. Harga peralatan mesinnya saja sangat mahal untuk ukuran saya, sekitar Rp. 200 juta-an rupiah, tergantung dari kapasitasnya. Berapa keuntungan?


Lembar-lembar plastik bekas yang telah diseleksi dibeli dengan harga bervariasi mulai dari Rp 1.000,- per kilogram. Setelah menjadi pelet harganya jauh meningkat, ada yang Rp, 5.000,- per kilogram, bahkan kalau warna dan kualitasnya sesuai pasar bisa mencapai Rp, 10.000,-.

Karena penasaran ingin melihat seperti apa mesin pelet ini an bagaimana prosesnya, maka beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke pabrik ini, yaitu PT. XIN BAO MACHINERY INDONESIA (PT.XBMI), beralamat di Jl. Industri Cimareme II No. 7 Padalarang, Bandung, Jawa Barat, telpon 62-22-6868418, 62-22-6867883, fax 62-22-6866516. Waktu itu saya diterima oleh Bapak Deni selaku General Manager, HP 08122359188.

Rupanya pabrik ini, selain memproduksi pelet plastik daur ulang, juga memproduksi karung-karung plastik yang di-merk-I (dinamai) sesuai pesanan. Bahan baku karung plastik ini menggunakan polypropylene trilene. Selain itu rupanya pabrik ini (PT.XBMI) juga menjual peralatan mesin pelet daur ulang yang harganya ratusan juta seperti telah disebutkan di atas. Mesin pelet plastik daur ulang ini dinamai recycling granulator.

Mesin ini memanaskan tabung peleleh dengan suhu mencapai 200 sampai 300 derajat Celcius. Kapasitas produksi butir-butir pelet plastik bisa mencapai 3 ton selama operasi 8 jam sehari. Harga bahan dan harga jual seperti telah disebutkan di atas. Mesin ini bisa dioperasikan oleh 2 orang pekerja. Butir-butir pelet plastiknya seukuran butir-butir beras. Pelet yang berwarna putih jauh lebih mahal dibanding warna-warna lain. Hingga kini, menurut penjelasan staf PT.XBMI, pasar pelet plastik masih bagus, malah sangat menjanjikan. Berapa biaya produksi, berapa harga jual, berapa keuntungan, berapa lama modal kembali, dengan mudah bisa dihitung, dan pasti untung! Itu kalau punya modal, lahan, ketrampilan, dan pasar.

Tetapi prinsip dasar dari mesin recycling granulator ini sebenarnya sederhana saja. Lembar plastik bekas masuk, dipanasi, leleh, ditekan keluar, masuk air pendingin, dipotong kecil-kecil menjadi butiran, ditampung, dimasukkan dalam karung, lalu dijual kepada pasar yang telah menunggu.

Memang peralatan mesin ini khusus untuk skala besar atau skala pabrik, sedangkan untuk skala rumah tangga maka plus-minus peralatan dan perhitungannya akan lain. Sebaiknya bapak dan ibu bisa menciptakan mesin pelet skala kecil dan jauh lebih sederhana yang bisa dimanfaatkan untuk skala rumah tangga.

MELELEHKAN PLASTIK MODEL PUSKIM

Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 13 November 2007
Foto: Sobirin 2005, Alat Pengolah Plastik Kresek PUSKIM


Oleh: SOBIRIN
Kantong plastik kresek wadah makanan, belanjaan pasar, belanjaan warung, dan lain-lain sudah tidak lagi dipakai di negara-negara maju ramah lingkungan. Di tempat kita kantong plastik ini malah semakin membudaya dan menimbulkan dampak negatif yang sangat merugikan lingkungan.



Wadah belanjaan di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat dan Eropa menggunakan kantong kertas yang mudah didaur-ulang.

Kita kerepotan dengan banyaknya kantong plastik kresek bekas yang dibuang sembarangan. Di alam bebas sulit sekali hancur atau lapuk. Mengotori pemandangan dan selalu menyumbat saluran-saluran drainase. Apalagi ada sisa sambel, sayur santan yang menempel di plastik tersebut. Membusuk, bau, mengundang lalat, menimbulkan penyakit.

Saya berkunjung di Kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (disingkat PUSKIM), alamatnya di Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten BANDUNG 40393, PO BOX 812 BANDUNG 40008 , JAWA BARAT, INDONESIA Telepon 022-7798393, Fax. 022-7798392. Kantor ini dibawah naungan Badan Litbang Pekerjaan Umum, Departemen Pekerjaan Umum di Jakarta. Salah satu laboratoriumnya menciptakan alat untuk mengolah kantong plastik kresek bekas ini menjadi pelet-pelet plastik.

Sebenarnya alatnya cukup sederhana, dan bisa dibuat sendiri di bengkel (lihat foto inzet, kira-kira bentuknya begitu). Secara garis besar komponen-komponennya terdiri dari tabung besi diameter kira-kira 10 cm dan panjang 30 cm. Tabung ini di lubangi untuk corong tempat masuknya plastik kresek yang akan dilelehkan. Di ujung tabung yang satu ditutup, tetapi pada tutup ini ada lubang-lubang kecil tempat keluarnya plastik leleh. Di ujung tabung yang satunya lagi adalah tempat masuknya besi yang diberi sirip ulir. Bila besi sirip ulir ini berputar, sirip ulir akan mendorong plastik leleh keluar melalui lubang-lubang kecil.

Plastik leleh yang keluar melalui lubang ini bentuknya seperti cacing dengan suhu tinggi. Lalu dipotong-potong dengan pisau, dan potongan-potongan plastik panas ini akan jatuh ke dalam wadah yang diisi air untuk mendinginkannya, dan jadilah pelet-pelet plastik berwarna hitam (karena plastik kreseknya berwarna hitam).

Plastik bisa leleh tentunya kalau dipanaskan. Terlebih dahulu tabung besi dan besi sirip ulir tersebut diatas dipanaskan dengan alat pemanas. Di laboratorium PUSKIM ini pemanasnya menggunakan pemanas listrik. Sebenarnya bisa juga dengan pemanas lain, misalnya kompor, asal temperatur tabung bisa mencapai 150 derajat hingga 200 derajat Celcius.

Untuk apa pelet-pelet tadi? Bisa untuk bahan bangunan semacam bata bila diaduk dengan semen, menggantikan kerikil. Jauh lebih bermanfaat dibanding bila hanya dibuang begitu saja menjadi sampah yang bermasalah.

Sebenarnya kalau kita semua kampanye untuk tidak menggunakan kantong plastik kresek ini, dan meniru negara-negara lain yang ramah lingkungan menggunakan kantong kertas yang mudah didaur-ulang, maka akan sangat bisa mengurangi masalah sampah dan dampak negatifnya di tempat kita.

“ Peringatan Hari Pahlawan ke 62“

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawannya “ . ungkapan tersebut mengandung makna yang dalam bagi suatu bangsa yang pernah mengalami masa-masa pahit, sulit dan pengorbanan dalam merebut suatu kemerdekaan. Tak terkecuali bagi bangsa dan warga negara indonesia yang berada di belahan selatan benua amerika, Buenos Aires – Argentina yang pada tanggal 12 Nopember 2007 turut ikut mengambil peran dalam pelaksanaan upacara Bendera memperingati Hari Pahlawan 10 November 2007, sebagai salah satu bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan/pejuang pendahulu kita.

Dubes LBBP RI, Sunten Z. Manurung selaku pembina upacara membacakan sambutan Menteri Sosial RI yang pada intinya adalah : “Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah suatu peristiwa heroik yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan menimbulkan banyak korban jiwa berjatuhan di kalangan rakyat, baik tua, muda, pria-wanita, pejuang terlatih maupun rakyat biasa yang dengan tekad kuat dan semangat membara maju ke medan perang dengan pantang menyerah, tampa pamrih, percaya kepada kemampuan sendiri untuk menghadapi gempuran bangsa asing yang ingin mengembalikan kekuasaannya di Indonesia. Semangat dan wawasan kepahlawanan tersebut, wajib kita hayati dan dapat menjadi inspirasi memacu dan memicu bagi kita di dalam mengisi kemerdekaan ini demi mewujudkan masyarakat sejahtera.

Ada seribu, mungkin sejuta pesan dari para pahlawan yang belum terungkap oleh kita. Namun ada sekelumit beberapa contoh pesan pahlawan yang bermakna untuk generasi bangsa Indonesia yang sudah merdeka ini sbb :

Untuk keamanan dan kasantausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Y.ME. Orang yang mendekatkan diri lepada Tuhan tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan selalu menuntun dan melimpahkan anugerah yang tidak ternilai harganya”. (Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang).

Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan ataupun gaji yang tinggi”. (Pahlawan Nasional Supriyadi).

Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri ”. (Pahlawan Nasional Prof. Moh. Yamin, SH).

Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang ”. (Pahlawan Nasional Abdul Muis).

Dengan rasa ikhlas dari lubuk hati yang dalam, kami memohon kehadirat-Mu Ya Tuhan, semoga Engkau berkenan mengampuni dosa-dosa para pahlawan pendahulu kami dan berkenan pula menerima dharma bhakti mereka sebagai pengabdian yang tertinggi dan Engkau masukkan mereka sebagai syuhada bangsa yang ikhlas berkorban. Amin.-

Partisipasi “TARI SAMAN” dalam “FERIA De LAS NACIONES”

Feria de Las Naciones adalah suatu pameran tahunan dari berbagai negara yang diselenggarakan di kota Buenos Aires yang menampilkan produk kerajinan, garmen dan makanan khas dari berbagai negara, disamping pertunjukan seni budayanya. Pameran yang berlangsung dari tanggal 1 – 12 november 2007 diikuti oleh sekitar 80 stand dengan jumlah diperkirakan 10.000 setiap harinya dan dapat mencapai dua kali lipatnya pada hari libur.

Pada salah satu stand yang menampilkan dan menjual produk kerajinan asal Indonesia, menginformasikan bahwa barang-barang asal Indonesia sudah banyak yang habis terjual sebelum pameran berakhir. Hal mengindikasikan bahwa produk-produk Indonesia cukup kompetitif dan banyak diminati oleh masyarakat setempat.

Partisipasi KBRI Buenos Aires dalam pesta pameran tahunan ini menyumbang dan menampilkan “Tarian Saman” dari kelompok remaja Bangsa Indonesia Argentina yang memang sudah terlatih dan mempunyai pengalaman pentas yang cukup tinggi di Argentina. Remaja Indonesia sediri diwakili oleh pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu dan mengikuti orang tua bekerja di Buenos Aires, Argentina, antara lain : Martinus Manurung, Gina Yudi, Icha Yudi, Ratna dan ditambah Rendy Pangemanan, staf kbri merangkap pelatih saman . Sedangkan remaja Argentina diwakili oleh : Carla, Christian, Luciana dan Dennis.

Ratusan pasang mata seperti tak henti menatap terpesona pada gerakan tangan dan kepala yang dinamis, cepat dan terkoordinasi dari para sembilan penari saman. Decak kagum dan tepuk tangan gemuruh setiap gerakan. Tarian Saman tersebut dijadikan acara pembuka dalam pentas seni di panggung budaya Feria de Las Naciones pada hari minggu, 11 november 2007 yang membuat penonton puas, terpesona dan terhibur.


Dubes RI, Bpk Sunten Z
. Manurung beserta beberapa staf dan Ibu-ibu DWP KBRI Buenos Aires juga turut aktif berpartisipasi dengan datang dan memberikan support untuk anak-anaknya tercinta yang pentas dalam tarian tersebut dan sekaligus melihat-lihat barang pameran dari negara lainnya, sebagai ajang membuka wawasan dan pergaulan yang lebih luas , sambil mempromosikan produk dan budaya bangsa lewat brosur-brosur yang dibagikan kepada pengunjung pameran.

Bravo y Salud para Tari saman.-

MELELEHKAN PLASTIK MODEL SENDIRI

MEMBUAT "BROS" PLASTIK BEKAS
Bandung, Jl. Alfa No. 92 Cigadung II, 11 November 2007
Foto: Sobirin 2007, Nyala Lilin Melelehkan Plastik

Oleh: SOBIRIN

Pak Anjarseno menanyakan kepada saya melalui blog ini tentang proses pelelehan plastik bekas. Untuk skala rumah tangga dengan peralatan seadanya memang bisa saja. Begini caranya.



Cara yang saya pakai di rumah adalah sangat sederhana, yaitu sekedar melelehkan plastik saja dengan bentuk akhir tertentu. Tidak dibakar, hanya dipanaskan. Untuk cetakan-nya saya pergunakan sendok makan bekas yang tidak dipakai lagi.

Pertama: Plastik bekas sikat gigi, sisir, dan sejenisnya dipotong menjadi ukuran kecil-kecil. Kalau susah ditumbuk saja. Pilih warna plastik yang bermacam-macam, warna-warni. Boleh saja satu warna, terserah kemauan kita. Merah saja, putih saja. Atau campuran dua atau tiga warna.


Kedua: Taruh potongan-potongan kecil plastik dalam sendok. Sebelumnya sendok diisi sedikit minyak goreng (sedikit saja, atau dioles secukupnya).

Ketiga: Jangan lupa menyiapkan air dingin dalam wadah kobokan atau tempat cuci tangan, yaitu untuk mendinginkan plastik yang telah meleleh.


Keempat: Nyalakan lilin, lalu taruh sendok yang telah berisi potongan-potongan plastik di atas nyala lilin. Atur jarak api dengan sendok agar cukup panas, tetapi tidak sampai api menjilat plastik dan terbakar. Kalau terbakar, artinya sama saja kita membakar plastik dan akan berasap hitam mengandung racun dioksin.


Kelima: Plastik mulai meleleh. Kalau diukur, kira-kira suhunya sekitar 200 derajat Celcius. Bila telah meleleh semua, segera sendok dimasukkan ke dalam air dingin yang telah disiapkan. Plastik yang meleleh akan segera membeku dan lepas dari sendok. Kalau belum lepas, tekan dengan ibu jari supaya lepas. Jadilah bentukan sesuai cembungan sendok, berwarna sesuai pilihan kita.


Saya coba dengan kantong kresek plastik yang dipotong-potong kecil dengan gunting. Bisa juga dilelehkan dan dibentuk seperti tersebut di atas. Warnanya tergantung plastiknya. Tetapi hasilnya berwarna hitam keabu-abuan.


Sewaktu saya kecil dulu di kampung, saya juga pernah membuat hal ini. Waktu itu membuat “bros” atau “pin”. Pada tahap yang kelima, sewaktu plastik telah meleleh semua, lalu diatasnya diletakkan peniti (jarum peniti). Setelah dimasukkan ke dalam air dan lepas, jadilah “bros” atau “pin” sekedar mainan sewaktu jaman saya kecil dulu.


Silahkan dikembangkan dengan bentuk-bentuk cetakan yang lain, barangkali ada manfaatnya untuk berkreasi.

Lapis Legit

Bahan A:
300 gr mentega tawar
200 gr margarin
3 sdm susu kental manis
30 kuning telur
350 gr gula bubuk
1/2 sdt vanili
100 gr tepung terigu (kami pake 150 gr) } campur dan ayak
1 sdm bumbu spekuk}

Cara membuat:
1. Kocok mentega dan margarin sampai lembut dan putih. Masukkan susu kental manis sambil terus dikocok sampai halus dan rata, sisihkan. KLIK - Detail

2. Kocok kuning telur, gula bubuk, dan vanili sampai naik dan kental.

KLIK - Detail 3. Masukkan mentega kocok sedikit demi sedikit ke dalam adonan telur sambil diaduk perlahan sampai rata.

4. Masukkan campuran tepung terigu sedikit-sedikit sambil diaduk sampai tercampur rata. KLIK - Detail

KLIK - Detail 5. Siapkan loyang persegi ukuran 20x20x7 cm, alasi kertas roti dan olesi margarin. Tuang 2 sdm adonan ke dalam loyang, ratakan.

6. Panggang dengan api bawah sampai kecokelatan. Keluarkan loyang, tuang lagi 2 sdm adonan, ratakan. Panggang dengan api atas sampai kecokelatan. Keluarkan lagi loyang dari oven, tekan-tekan dengan alat penekan khusus untuk lapis legit. KLIK - Detail

KLIK - Detail 7. Tuang lagi 2 sdm adonan, ratakan. Begitu seterusnya sampai adonan habis. Bila sudah selesai matangkan kue sebentar dengan api bawah.


Sumber Tabloid Nova

Ucapan duka cita


Kami seluruh Pengurus dan Anggota DWP KBRI Buenos Aires

Turut Berduka Cita Atas Wafatnya

Mr. Gaspar Toboada, Usia 79 Tahun

(Suami dari Ibu Sulastri/Masyarakat Indonesia)

Pada Hari Jumat, Tanggal 02 Nopember 2007 Jam 13.15 Bs.As

Semoga Almarhum diampuni dosanya dan diberikan tempat yang layak

Di sisi Tuhan Y.M.E

Dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan

Dan kekuatan iman, lahir dan bathin, amin.-


 

http://2.bp.blogspot.com/-Aa6vWigfcQU/T8Ge4L3eVVI/AAAAAAAAAQ8/ZUmyEohYjRs/s1600/ads-160x600.gif

Blogroll


http://1.bp.blogspot.com/-cptOjk72lhU/UXpUg5fZHbI/AAAAAAAAAX8/wy8cS7Jyj70/s1600/1600+x+600.gif

About